Sejak November 2010 saya telah menjual 30 buku kepada teman-teman dan pembaca yang membelinya langsung dari saya. Terima kasih banyak atas apresiasinya kawan-kawan. Berikut ini adalah beberapa komentar dari para pembaca tersebut :
Buku Senjakala bagus aku suka , endingnya unpredictable, ditunggu buku lainnyaya… Marina Christi Fani, Guru, Jakarta
Aku baca buku Senjakala... nggak nyangka ternyata mbak kereen banget… Eka, Mahasiswa, Jakarta
Yup sudah diterima dan hari itu juga langsung habis dibaca....Yessi Crosita, Bogor
berikut ini nukilan novel Senjakala dari halaman 118.........
Naka ke manakah engkau pergi? Lily merasa kehabisan akal untuk menemukan Naka. Entah untuk keberapa kalikah pertanyaan itu ia ajukan. Ia pernah meneriakkan pertanyaan itu sekencang-kencangnya di tengah deru mobilnya bersama Cakra. Namun, hanya kesunyian yang menjadi jawaban dari pertanyaan Lily. Kini Lily tahu betul perasaan Naka ketika ia berusaha menemukan kakaknya. Ia selalu dihajar kesia-siaan. Tidak pernah ada jawaban untuk setiap pertanyaan yang diajukannya. Tidak ada kepastian untuk harapan yang dipupuknya hari demi hari. Orang-orang yang mengaku memerhatikannya, seperti ia dan Cakra, meninggalkannya begitu saja seolah tidak pernah mengenalnya. Tapi haruskah Naka menjadi nekat karenanya?
Sebulan terakhir ini, Lily dan Cakra menyusuri setiap jejak yang mungkin membuat mereka bisa menemukan Naka. Namun, hasilnya nol besar. Nihil. Tidak terlihat sedikit pun bayangan Naka di antara jalan-jalan yang mereka telusuri. Lily hanya mampu menemukan bayangan-bayangan wajah Naka dalam benaknya. Wajah yang dihiasai bola mata cemerlang. Bila Naka sedang gembira, mata itu akan akan berbinar seperti kerlip jutaan bintang. Lily selalu merasa Naka akan tumbuh menjadi orang yang istimewa bila besar nanti. Ia akan menjelma menjadi perempuan yang hebat. Hati Lily teriris. Sekarang bocah itu hilang seolah ditelan perut bumi. Di manakah engkau, Naka? Lily kembali meneriakkannya keras-keras di hatinya.
Apa yang sanggup menghalau perasaan bersalah di hatinya? Tidak ada. Lily merasa pantas menerima segala luka ini di hatinya. Wajah Naka yang sangat mengharapkan kehadirannya terus mengikutinya seperti terus mengingatkan Lily betapa bersalahnya ia pada anak itu. Namun, sekarang semuanya terasa sudah terlambat. Lily tidak bisa menemukan Naka untuk mengatakan betapa ia peduli pada anak itu, betapa ia sayang Naka seperti adiknya sendiri. Masihkah ia punya kesempatan?
0 komentar:
Post a Comment