HUT ke-44 Harian Kompas ditandai dengan peluncuran buku Cerpen Kompas Pilihan 2008 di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Senin (29/6). Buku itu mengambil judul dari salah satu cerpen di buku tersebut, yakni Smokol, karya Nukila Amal. Dan, cerpen Smokol itu dipilih menjadi cerpen terbaik "Cerpen Kompas Pilihan 2008".
"Nama saya bukan Akmal, tapi Amal," ucap Nukila Amal di atas panggung di BBJ saat memberi sambutan peluncuran buku Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008 di BBJ. Dia mengoreksi namanya yang disebutkan oleh pembawa acara di BBJ sebagai Nukila Akmal.
Namanya juga salah tulis di sampul depan buku dan biodata penulis. Yang seharusnya Amal menjadi Akmal.
Nukila Amal yang lahir di Ternate, 26 Desember 1971 ini tahun 2003 meluncurkan novel pertamanya berjudul Cala Ibi. Selain itu, dia juga berkarya dalam kumpulan cerita pendeknya berjudul Laluba tahun 2005. Buku kumpulan cerita pendektnya itu dipilih sebagai buku sastra terbaik 2005 Majalah Tempo. Saat ini, ia bekerja di Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta.
Peluncuran buku tersebut dihadiri, antara lain Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas Agung Adiprasetyo, Pemimpin Redaksi Harian Kompas Rikard Bagun. Selain itu peluncuran buku juga dihadiri oleh penulis Hamsad Rangkuti, pelukis Hardi dan Astari Rasyid, bintang film dan pemain teater Jajang C Noer, dan Deputi Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta Aurora Tambunan.
Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Rikard Bagun, dalam sambutannya mengatakan cerpen adalah bayangan pengarang tentang dunia nyata. Cerita pendek itu melalui imajinasi dan fantasi diangkat dari realitas yang diperindah atau diperburuk. Selain itu, cerpen juga memberi ruang terbuka kepada pembacanya untuk memberi interpretasi dan pemaknaan.
Menurut Penyunting Cerpen Kompas Pilihan, Ninuk Mardiana Pambudy, 15 cerpen dipilih dari 51 cerpen yang pernah terbit di harian Kompas setiap Minggu. Cerpen-cerpen yang terpilih itu lalu diseleksi oleh tim juri, yakni Rocky Gerung, pengajar mata kuliah Filsafat Kritis dan Metodologi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia; dan Linda Christanty, pemenang Khatulistiwa Literary Award tahun 2004.
Ke-15 cerpen yang masuk dalam Cerpen Kompas Pilihan, yakni Smokol karya Nukila Amal, Iblis Paris karya Triyanto Triwikromo, Kiriman Laut yang Terlambat karya Beni Setia, Senja di Pelupuk Mata karya Ni Komang Ariani, Cerita dari Rantau karya Anton Septian, Terbang karya Ayu Utami, Sakri Terangkat ke Langit karya S Prasetyo Utomo, Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh karya Martin Aleida, Merah Pekat karya Fransisca Dewi Ria Utari, Rumah Duka karya Ratih Kumala, Dalam Hijau Hijau Friedenau karya Triyanto Triwikromo, Berburu Beruang karya Puthut EA, Kartu Pos dari Surga karya Agus Noor, dan Perempuan Sinting di Dapur karya Ugoran Prasad.
Ninuk menjelaskan, pada tahun-tahun sebelumnya, buku cerpen yang diterbitkan oleh Kompas adalah Cerpen Pilihan Kompas, yaitu cerpen yang dipilih oleh redaksi Kompas dalam satu bentuk buku. Akan tetapi, tiga tahun belakangan cerpen-cerpen yang dipilih oleh redaksi Kompas dan dimuat dalam Kompas Minggu itu diseleksi oleh tim juri.
"Tim juri menyeleksi cerpen-cerpen yang dimuat di Kompas selama tahun 2008," ucapnya.
Dia mengatakan, redaksi Kompas menerima cerpen-cerpen karya penulis, baik penulis yang sudah kawakan atau penulis pemula. Namun, redaksi hanya memilih cerpen-cerpen yang alur cerita jelas dan sesuai dengan logika. "Kalau alur ceritanya runtut dan mengikuti logika sudah pasti lolos," tutur Ninuk yang juga wartawan Kompas. Dan, cerpen itu sebelum terbit di Harian Kompas diseleksi 2-3 orang di redaksi Kompas. (Intan Ungaling D)
dikutip dari Warta Kota
0 komentar:
Post a Comment