Menelikung barangkali telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam keseharian kita. Itulah sebabnya, betapa sulit memberantas korupsi di negeri ini. Bagaimana tidak, pada hal-hal yang sangat sepele sekalipun, banyak orang yang masih berusaha mencari keuntungan demi kepentingan pribadi. Belum lama ini, saya dibuat kesal oleh sekolah anak saya. Sekolah itu hanya berjarak 300 meter dari rumah dan masih tergolong baru. Saya memilih sekolah itu, semata-mata ingin menyalurkan energi Disa yang mulai bandel. Beberapa bulan bersekolah sih, rasanya ok-ok saja, tapi sepekan ini, tiba-tiba ada pengumumam ada kegiatan bersama yang sifatnya wajib untuk anak saya. Ikut tidak ikut, bayar!! Haiyaa.... Itu sama saja dengan cari duit. Yang tidak ikut kok disuruh bayar. Ketika saya mencoba memberi saran agar setiap kegiatan bersama agar meminta persetujuan orang tua. Apa kata pihak sekolah? Kegiatan di Little Bear (nama sekolah itu) sudah dijadwalkan selama setahun. Masa iya sih. Apa bukan karena pemiliknya lagi butuh duit. Itu satu contoh kecil. Contoh kecil lainnya, ketika anak saya ke dokter untuk vaksin, eh dokternya tiba-tiba meresepkan vitamin. Apa iya vitamin itu obat untuk membantu anak mengatasi efek dari vaksin? Setelah saya ingat-ingat, ternyata dokter ini selalu meresepkan vitamin yang berbeda-beda setiap kali anak saya periksa. Padahal pada saat periksa saya tidak pernah mengeluhkan si anak tidak mau makan atau berat badannya turun. Jualan vitamin nih dok! Alhasil vitamin-vitamin itu sekarang menumpuk di rumah saya karena tidak diminum. Dokter yang sudah kaya saja jualan vitamin, gimana yang lain. Duh.. duh... Dan hari ini saya melihat pemandangan yang menggenaskan ketika naik angkot. Dua orang pengendara motor terlempar dari motor entah karena menabrak apa. Seorang anak kecil yang kira-kira seumuran anak saya terjatuh dari motor. Ketika angkot saya melewatinya, saya mendengar anak itu menangis. Apa coba sebabnya kalau bukan kesukaan orang-orang menelikung, menyalip, ingin cepat walaupun membahayakan keselamatan orang lain, cari duit walaupun menyusahkan orang lain? Dan seorang anak kecil yang tidak berdosa menjadi korban. Lalu lintas Jakarta sudah menjadi lalu lintas yang sangat mengerikan. Tidak ubahnya hutan belantara yang hanya mengenal hukum rimba. Di negeri ini, sepertinya etos untuk memikirkan kepentingan orang lain menguap entah kemana. Asal gue senang, bodo deh lu kenapa-kenapa. Jika semua berfikir demikian, janganlah bermimpi hidup di negeri yang beradab, di negeri impian. Seandainya lebih banyak orang berpikir, kalo gue nggak suka digituin, jangan gituin orang lah. Tapi berapa banyak orang ya yang berfikir begitu?
0 komentar:
Post a Comment